Saturday, March 31, 2012

Saya (bukan) Mahasiswa Pecinta Alam

Saya ingin sedikit share tentang keterlibatan saya dalam sebuah organisasi pecinta alam. Sebuah organisasi yang mengajarkan saya banyak hal, mulai dari membuat perencanaan mendetil tentang segala sesuatu, menuangkan sebuah ide besar ke dalam implementasi yang kadang hasilnya sesuai ataupun tidak dengan harapan sebelumnya, hingga belajar mengenai empati.

Awal mula saya menjadi mahasiswa baru Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya, saya sedang terbayang-bayang indahnya Puncak Mahameru karena baru saja membaca sebuah novel karya Donny Dirgantoro yang menceritakan perjuangan sekelompok sahabat mendaki Gunung Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa. Oleh karena itu, saya langsung melupakan keinginan saya menjadi penyiar radio dan kemudian mulai berpikir apakah saya akan ikut Wanachala (UKM PA tingkat universitas) atau KMPA Pelangi (UKM Fakultas Psikologi).

Pilihan pun jatuh pada KMPA Pelangi, karena saya merasa akan lebih baik jika saya dekat dengan teman-teman sesama fakultas. Terlebih lagi dalam hal jadwal kegiatan dan lain-lain, mungkin akan lebih sesuai dengan beban perkuliahan di prodi yang bersangkutan. Akhirnya setelah terkagum-kagum pada presentasi salah seorang senior saya yang bergigi emas di open house, saya memutuskan untuk mengirim pesan singkat ke hotline KMPA Pelangi yang ketika itu dipegang oleh ketua pada saat itu, Putri Natalia. Wah, ketuanya cewek! Dan saya terkagum sekali pada saat itu karena di benak saya, sangat jarang seorang wanita terlibat dan bahkan menjadi ketua organisasi pecinta alam. Ketika itu saya masih seperti orang awam lainnya yang memandang bahwa anak-anak pecinta alam adalah anak cowok gondrong, pemabuk, kuliahnya lama, dan cari mati. Tapi karena sejak SMA saya memang tertantang dengan hal-hal yang tidak biasa, maka tidak heran saya justru tertantang untuk mengubah image tersebut.

Terlibatlah saya menjadi calon anggota Pendidikan dan Latihan Dasar (DIKLATSAR) angkatan VIII. Calon anggota yang awalnya berjumlah 17 orang, pada latihan fisik terakhir hanya tersisa tujuh orang. Kebanyakan dari mereka mundur dengan alasan dilarang oleh orangtua akibat pulang terlalu malam karena memang kegiatan kami sebagai calon anggota sangat padat. Saya pun sebenarnya dilarang oleh ibu saya, bahkan saya sampai beberapa kali berdebat dengan ibu saya tentang keterlibatan saya di organisasi ini. Dan puncaknya pada saat latihan fisik terakhir, saya yang sedang tertekan secara mental karena disuruh keluar dari pendidikan akhirnya hampir menyerah karena dipaksa untuk memenuhi tuntutan fisik yang bagi saya, saya sudah tidak sanggup lagi. Walaupun setelah saya pikir-pikir, seharusnya saya bisa saja memenuhi tuntutan itu. Bagaimana tidak? Saya ini ketika SMA hanya bisa lari selama lima belas menit, itu pun napasnya sudah setengah-setengah, belum lagi saya hanya bisa push up tiga puluh kali (itu pun tidak sempurna), sit up pun saya tidak bisa lebih dari 30. Tapi ketika pendidikan tersebut, saya pada akhirnya sanggup lari selama 70 menit dengan ritme yang ditentukan oleh instruktur latihan fisik, push up sempurna, dan sit up hingga 64 hitungan. Tidak seharusnya saya menyerah bukan? Perasaan inferior lah yang membunuh saya. Ketika itu saya memang yang paling lemah di antara teman seangkatan lainnya.

Setelah diajak berbicara oleh senior saya, yang ketika itu adalah Ririn dan Bayu, saya memutuskan untuk tetap mengikuti latihan fisik terakhir dan diklat lapangan. Dan lagi-lagi, ketika diklat lapangan, perasaan inferior karena merasa paling lemah di antara teman seangkatan saya ketika itu membuat saya merasa tidak layak dilantik sebagai anggota. Sembilan hari di Parakan Salak merupakan hari-hari tercengeng dalam hidup saya. Saya benar-benar mengenal diri saya ketika itu. Comfort zone saya benar-benar dihancurkan dalam sembilan hari. Saya yang biasa mandi setelah berkegiatan di luar rumah karena merasa jorok, harus belajar untuk tidak mandi walau berkegiatan di tanah yang becek akibat hujan. Saya yang biasa tidur berselimut di kamar ber-AC harus tidur di dalam bivak dalam kondisi hujan yang mengakibatkan celana saya basah. Dan masih banyak hal yang merusak ketahanan mental saya.

Setelah dilantik menjadi anggota, masih banyak hal yang kemudian entah membuat saya kecewa dengan organisasi yang saya geluti, atau justru perasaan inferior bahwa saya tidak bisa melakukan apapun ketika saya masih anggota muda, bahkan ketika anggota penuh pun saya masih merasa tidak berhak mengambil keputusan karena kiprah saya di dalam organisasi tidak sebaik ketika anggota muda. Saya terlalu banyak hilir mudik di organisasi lain di fakultas, dimana saya merasa disana pun saya tidak maksimal. Hingga pada satu titik saya menyadari bahwa perasaan inferior lah yang semakin lama membunuh saya. Bahwa yang seharusnya saya lakukan adalah lakukan apa yang bisa saya lakukan di hari ini sebaik-baiknya. Bahwa hidup itu memang selamanya belajar untuk menjadi lebih baik, jadi untuk apa merasa bahwa jika hari ini saya belum baik artinya selamanya tidak akan menjadi lebih baik daripada orang lain. Tidak baik membandingkan kemampuan diri sendiri dengan orang lain sampai segitunya. Kita ini diciptakan berbeda. Yang mereka bisa, belum tentu kita bisa, dan begitu pula sebaliknya.

Pada detik ini, saya masih berjuang melawan perasaan inferior itu. Namun saya sudah bisa menepis sedikit pikiran buruk tentang diri saya sendiri dan sudah mulai melakukan apa yang bisa saya lakukan hari ini. Setidaknya dari empat tahun berkuliah ini saya sadar bahwa seburuk-buruknya hal yang terjadi dalam hidup saya, saya pernah melewati sembilan hari laknat dan saya masih sehat walafiat hingga menjadi anggota penuh. Saya pernah melewati satu tahun merasa menjadi orang gagal karena ketidakmampuan saya mengkomunikasikan ide, tapi saat ini saya masih diberi kepercayaan untuk memimpin teman-teman saya bergerak menuju situasi yang lebih baik. Saya pernah melewati masa-masa kehilangan orang yang saya cintai, tapi saya masih bisa menemukan orang-orang lain yang juga menyayangi saya.

Begitulah hidup bukan? Tidak pernah ada kehidupan yang selamanya menyenangkan. Justru semakin banyak sayatan dalam hidup, semakin kebal pula kita terhadap sayatan lainnya. Dan sekarang, walaupun masih ada hal-hal yang kadang membuat saya kesal, sedih, atau marah, saya hanya cukup mengingat lesson learned yang saya peroleh selama saya berproses di dalam organisasi ini. Yang terpenting hanya lakukan apa yang bisa dilakukan, konsisten, dan jangan pernah mudah menyerah.

Mungkin banyak orang yang akan menertawakan saya apabila saya bilang saya ini pernah terlibat dalam organisasi pecinta alam, bahkan menjadi ketua pecinta alam. Karena prestasi kegiatan alam saya tidak luar biasa seperti mahasiswa pecinta alam lainnya. Gunung saja saya baru pernah mendaki Gunung Gede dan Papandayan (yang bagi salah satu kawan saya, itu namanya belum mendaki gunung). Tebing saja saya baru memanjat Klapa Nunggal dan Parang Ndog (itupun tidak sampai top). ORAD apalagi, saya ibarat rafting dengan provider karena saya tidak benar-benar menggeluti bidang ini. Caving pun baru pernah melakukan SRT di kedalaman 25 meter. Tapi kalau dari pelajaran yang saya peroleh selama berkegiatan di organisasi pecinta alam ini, saya bisa bilang bahwa saya sudah hampir bisa mengalahkan diri saya sendiri. Minimal, saya sudah benar-benar mengenal diri saya sendiri. Alam berperan besar dalam pencarian jati diri saya. :) Saya hanya masih perlu belajar untuk lebih konsisten saja kok. ^^

Live like there's no tomorrow. Just keep on walking in this dark tunnel, and one day you'll find the light.

No comments:

Post a Comment